Sabtu, 22 Juni 2013

BERFIKIR EFEKTUAL



Banyak orang ketika ditanya, apakah ingin jadi pengusaha? Pasti banyak yang ingin. Namun ketika ditanya lagi, ingin buka usaha apa? Nah ini baru bingung menjawabnya. Atau sekenanya menjawab, misalnya ingin buka toko baju, toko mainan, rumah makan dan lainnya. Tapi sebenarnya dalam hatinya masih tanda tanya besar, usaha apa yang menguntungkan dan bakal dilakukannya. Hal ini yang menyebabkan seringkali keingingan itu hanya sebatas rencana yang tidak pernah berhasil dijalankan.

Jika Anda mengalami seperti ini, Anda tidak sendiri. Banyak orang yang sulit melangkah menjadi entrepreneur karena bingung memilih bisnis yang hendak dilakukan. Bukan bingung karena banyak pilihan, tetapi lebih pada keraguan. Ya, yang dipertaruhkan memang banyak. Apalagi kalau kita salah menggunakan pola pikirnya. Hah? Pola pikir apa? Bukankah kita sudah banyak belajar bagaimana seorang entrepreneur itu berpikir? Ya, tapi berpikir saja tidak cukup, kita mesti tahu bagaimana bertindak dengan benar.

Saya beruntung pernah belajar dengan profesor Saras Sarasvathy, saat Roundtable on Entrepreneur Education: REE ASIA 2012, di Bangkok. Berikutnya setelah mempelajari buku-bukunya, Profesor Saras Sarasvathy datang ke Kampus Universitas Ciputra dan memberi workshop selama 3 hari. Saya banyak belajar tentang bagaimana pola pikir entrepreneur. Yang membedakan antara mereka yang berhasil dengan tidak adalah cara berpikirnya yang oleh Saras disebut sebagai cara berpikir efektual. Apa itu?

Berpikir efektual adalah kebalikan dari berpikir kausal. Berpikir kausal itu berarti kita menentukan tujuan lebih dahulu. Misalnya, saya ingin buka toko baju. Maka untuk buka baju saya harus menyiapkan modal ini itu, tempat, mencari supplier, mencari pelanggan dan sebagainya. Sebaliknya, berpikir efektual itu melihat siapa diri kita, apa yang bisa kita lakukan dan siapa yang kita kenal. Dari sana, kita kemudian bisa membuka usaha apa. Jadi bukan tujuannya yang ditentukan, namun dari diri kita bisa apa.

Untuk bisa berpikir secara efektual, Saras Sarasvathy mengemukakan ada lima prinsip yang harus dipegang. Pertama adalah prinsip yang namanya “bird in hand”, artinya apa yang ada di diri kita, siapa diri kita, hal apa saja yang bisa kita lakukan dengan baiks erta siapa saja yang kita kenal. Nah, yang sering menjadi masalah adalah, kita tidak tahu siapa diri kita, mungkin karena kurang percaya diri kemudian merasa tidak bisa apa-apa dan karena kurang pergaulan, juga membuat diri tidak punya banyak relasi atau kenalan.

Memang benar, inilah hambatan utama seseorang untuk melangkah menjadi seorang entrepreneur. Menemukenali diri ini sangat penting. Beberapa pelatihan entrepreneurship yang sifatnya praktis, seperti mengajar memasak, menjahit, atau lainnya, adalah membekali diri untuk menambah apa yang bisa kita lakukan. Tapi itu saja tidak cukup. Dalam proses menunggu menjadi entrepreneur, sangat baik jika Anda menambah relasi, koneksi dan pertemanan. Semakin luas jaring sosial yang Anda punya, ini merupakan bekal yang baik untuk masa depan Anda. Ingat, modal utama seorang entrepreneur itu bukan uang atau barang melainkan dirinya sendiri. Kalau Anda tidak mengenal betul diri Anda, Anda akan tersesat dalam perjalanan Anda untuk menjadi entrepreneur.

Nah, memasuki dunia bisnis itu sama seperti masuk hutan rimba. Atau perumpamaan lain, kalau selama ini kita berada di kolam, maka kita kini harus siap masuk ke lautan luas. Di sana keadaan serba tidak pasti. Berbeda kalau di kolam atau di kandang, mendapat makanan rutin tiap hari, seperti seorang pegawai yang mendapat gaji tiap bulan, keluar dari kolam atau kandang, kita hidup dengan mencari makan sendiri. Hidup menjadi serba tidak pasti. Bisa mendapat makanan banyak di luar sana, tapi bisa juga tidak. Ketidakpastian inilah yang sering membuat ragu. Saras Sarasvathy mengemukakan bahwa untuk mengatasi hal ini, ada prinsip-prinsip yang harus dipegang.

Prinsip berikutnya sebelum memulai bisnis adalah Anda harus berpikir dengan prinsip yang namanya affordable loss. Artinya, setiap Anda mau berbisnis, pasti ada waktu, tenaga, pikiran dan modal yang terpakai atau terbuang. Nah, apa yang Anda lakukan, tentu tidak ada jaminan bakal berhasil. Kemungkinan untuk gagal pasti ada. Lalu, apakah Anda siap jika gagal? Semisal, Anda diajak kerja sama oleh teman untuk berbisnis dan perlu modal Rp 100 juta. Ini adalah uang yang telah Anda kumpulkan selama lima tahun bekerja. Janji keuntungan juga bagus sehingga Anda tertarik untuk ikut. Namun, meski diberi bayangan keuntungan besar, ingatlah bahwa kegagalan juga bisa terjadi. Tak ada bisnis yang benar-benar bebas resiko. Jadi, kalau misalnya uang Anda yang Rp 100 juta itu terbang melayang, menguap bersama angin, apakah Anda siap secara mental? Jika ya, lakukan, jika tidak maka jangan dilanjutkan. Mengapa? Kalau Anda siap, maka Anda bisa bangkit lagi meski gagal. Kalau Anda tidak siap namun memaksakan diri, jika seandainya gagal, Anda pasti akan trauma, atau bahkan tidak bisa bangkit lagi. Affordable loss atau kerugian yang masih bisa ditoleransi adalah kunci bagaimana orang bisa jatuh 10 kali bangkit 11 kali.

Prinsip-prinsip ini membantu pengusaha mengambil keputusan dalam lingkungan yang serba tidak pasti. Saat berhadapan dengan ketidakpastian, pengusaha harus tetap fleksibel dalam cara mereka berpikir dan tindakan yang mereka ambil.
Prinsip ketiga adalah prinsip limun (lemonade). Apa itu? Pepatah di Amerika mengatakan, jika hidup Ada terasa kecut (seperti buah lemon), maka buatlah menjadi manis seperti limun (lemonade). Hidup memang tidak selamanya menyenangkan. Bisnis juga tidak selamanya mulus. Kadang kita menghadapat halangan dan masalah. Entrepreneur harus bisa berpikir optimis sehingga bisa mengubah masalah menjadi peluang. Orang pesimis melihat kesulitan dalam peluang, sebaliknya orang optimis melihat peluang dalam kesulitan. Jika Anda saat ini adalah orang yang peragu atau optimis, Anda mesti ubah itu, atau setidaknya, punyalah partner bisnis yang bisa membuat Anda optimis. Partner terdekat adalah keluarga Anda. Kalau Anda masih berpeluang mencari pasangan hidup, pilihlah yang sikapnya optimis, yang bisa membuat hidup Anda bergairah dan yakin menapak masa depan.

Nah, itu saja ternyata tidak cukup. Menurut Saras Sarasvathy, ada prinsip keempat yang tak kalah pentingnya yakni crazy quilt. Apa itu? Anda pernah melihat selimut yang terbuat dari kain perca? Kalau kita punya hobby menjahit, maka biasanya banyak sekali potongan kain sisa. Nah, kain sisa ini bisa disambung-sambung sehingga menjadi sebuah selimut yang cantik. Jika Anda mau menjadi entrepreneur yang sukses, jadilah “penjahit” yang bisa membuat selimut dari kain perca ini. Apa maksudnya dan bagaimana caranya? Artinya, jalinlah relasi dengan banyak orang, buatlah diri Anda bsia diterima di semua kalangan. Untuk itu jaga baik-baik karakter dan track record (rekam jejak) Anda. Jaga kepercayaan orang kepada Anda dan berprestasilah yang baik. Maka akan banyak orang yang mau berhubungan dengan Anda. Nah, sebagai entrepreneur, Anda mesti bisa merangkai dengan para relasi ini untuk bisa saling menguntungkan. Percuma Anda punya kenalan ribuan di Facebook kalau Anda tidak bisa menjalin kerja sama yang menghasilkan keuntungan bersama. Percuma juga mempunyai sejumlah kartu nama dari orang-orang top, tapi hanya menjadi hiasan di buku kartu nama Anda. Binalah kerja sama, mintalah komitmen mereka agar mau bersama dengan Anda meraih sukses. Ini adalah modal sosial yang sangat penting. Anda harus aktif menjalin hubungan.

Prinsip yang terakhir menurut Saras Sarasvathy adalah Pilot in the plane. Maksudnya, Anda adalah pilotnya, jadi Anda yang menentukan hidup Anda. Bukannya Anda ditentukan oleh keadaan, melainkan Andalah yang menentukan masa depan Anda sendiri. Memang ini bisa tidak sejalan dengan budaya kita yang sering kali diajarkan harus nrima, pasrah, tidak neko-neko atau hidup dengan mengikuti aliran air… just follow the flow. Namun, bagaimana kalau hal itu justru menjadi penghambat kita? Bagaimana bila ternyata aliran yang kita ikuti itu salah?

Intinya dalam prinsip yang terakhir ini adalah, apakah Anda mau mengontrol masa depan Anda atau meramalkannya? Saras mengatakan bahwa masa depan itu tidak pasti, percuma kita meramalkannya. Kalau kita meramalkannya, kita cenderung merencanakan sesuai dengan apa yang kita perkirakan. Tapi kadang hidup tidak seperti yang dibayangkan. Kita sudah merencanakan akan menikah dengan si A, tapi ternyata dalam perjalanan hubungan tersebut kandas. Jadi, kuncinya adalah kemampuan kita mengontrolnya, sebab kita adalah pilot dalam pesawat yang kita terbangkan. Peter Drucker juga mengatakan, "The best way to predict your future is to create it" Cara terbaik memperkirakan masa depan Anda adalah menciptakannya. Kita harus bisa menjadi pengendali atas hidup kita sendiri.

Anda harus punya mimpi. Jangan takut bermimpi sebab kalau kita mimpi saja tidak bisa, bagaimana akan dapat terwujud? Jika Anda punya mimpi, maka lakukan sesuatu agar mimpi itu terwujud. Jika Anda masih ragu, ingatlah akan prinsip-prinsip ini dan berpikirnya secara efektual. Teori dari Saras Sarasvathy ini menurut saya sungguh hebat, sangat memberi semangat dan keyakinan untuk melangkah membangun bisnis. Ingatlah, “If you don’t build your dream, someone will hire you to help you build theirs.” Jika Anda tidak membangun mimpi Anda, maka Anda akan bekerja untuk membangun mimpi orang lain. Membangun mimpi orang lain memang enak, tidak ada resiko, dapat gaji setiap bulan. Tapi apakah ini yang memang Anda inginkan? Hidup di kolam atau sangkar emas? Atau Anda ingin menjadi seperti hiu lautan, elang perkasa yang terbang di langit luas? Masa depan Anda, yang menentukan adalah diri Anda sendiri. Kalau Anda menyerah, maka hidup Anda akan ditentukan orang lain. Maka, buatlah Anda untuk sungguh-sungguh ingin menjadi seseorang yang bisa menentukan masa depan Anda sendiri.

Salam entrepreneur!

Jumat, 21 Juni 2013

Bagaimana Memilih Partner yang Tepat

Bagaimana memilih partner dalam berbisnis? Ini merupakan masalah tersendiri yang sering dihadapi. Kadang partner kita tidak serajin kita, atau pikirannya bisa saja tidak sejalan. Bahkan lebih buruk lagi, ada yang mungkin sifatnya negatif bahkan menipu. Tapi di masa kini, kalau kita mau besar, sebaiknya kita bekerja dalam suatu tim. Bekerja secara single fighter memang tidak ada salahnya, namun sudah bukan zamannya lagi. Untuk jangkauan yang lebih luas, sudah tak mungkin dapat ditangani sendiri. Maka dari itu, partner kerja atau mitra usaha harus segera dicari. Siapa yang tepat untuk dapat menjadi pasangan kerja?

Yang utama sebenarnya, tidaklah baik kalau kita memilih partner usaha hanya karena dia kaya. Kalau mencari partner dengan tujuan itu, berarti kedudukan kita lemah. Yang terjadi akhirnya adalah suatu jalinan kerja sama yang didasari oleh perasaan saling memanfaatkan, bukan saling membutuhkan. bentuk kerjasama seperti ini biasanya sulit sekali bertahan lama. Banyak sekali kerjasama yang berantakan hanya karena sebab ini.

Kerja sama semacam ini banyak dijumpai pada orang-orang yang punya pengetahuan dan pengalaman manajemen baik tetapi tidak punya modal, sedangkan yang kaya dan punya modal, namun tidak punya ketrampilan manajemen. Misalnya, pembagian keuntungan 70-30, artinya 70% untuk yang punya modal dan 30% bagi yang mengelola. Kalau perusahaan sudah mulai jalan, tak jarang kemudian timbul saling curiga dan berusaha menggeser yang satunya untuk mengambil keuntungan sepenuhnya. Karena kerja sama semacam ini biasanya awalnya juga disadari oleh rasa saling percaya, maka tidak ada ikatan perjanjian kerja yang sah, hanya berdasarkan pembicaraan saja. Akibatnya banyak manajer-manajer yang kemudian dikecewakan oleh boss-nya karena kemudian digeser digantikan oleh orang lain yang dibayar secara gaji, bukan pembagian keuntungan. Inilah satu sifat manusia yang berbahaya, yaitu serakah dan tamak.

Tetapi tidak semuanya pasti akan berakhir seperti itu. Memang juga tergantung dari perjanjian yang dibuat sebelumnya. Masalahnya, kadang perjanjian tidak dibuat secara tertulis karena pada mulanya didasari dengan rasa saling percaya dan sungkan. Akibatnya, kelemahan ini dipakai sebagai dasar untuk menggeser partnernya yang tidak memiliki kekuatan hukum dalam bekerja sama. Hubungan yang didasari uang, akhirnya bisa berantakan. Lalu bagaimana caranya memilih partner bisnis? Sementara kita juga membutuhkan modal? Sebaiknya, dalam hal dana, kedudukan kita juga kuat. Artinya, kita bukan berasal dari modal dengkul saja.

Kita sudah punya modal, katakanlah sekian ratus juta, tetapi belum cukup untuk usaha yang dimaksud. Agar dapat klop, kemudian dicari partner yang menutupi kekurangan. Tetapi hubungan kerja sama dengan cara ini saja juga kurang bisa langgeng. Sebab kalau suatu saat kita merasa sudah mampu mandiri, kalau kita sedang gelap mata, bisa saja partner yang selama ini telah membantu kita kemudian kita singkirkan, baik dengan cara halus atau kasar. Hubungan lalu putus dan semua menjadi tak enak. Memang kalau sudah bicara soal uang, kawan yang asalnya teman sepermainan bisa saling membunuh. Perjanjian yang kita ucapkan pada awal kerja sama bisa berubah kalau perusahaan kemudian menjadi besar. Kita semua harus hati-hati dan menjaga hal ini, karena setiap manusia bisa dijakiti sakit iri hati dan tamak.

Memilih partner bisnis atau pasangan dalam dunia usaha sesungguhnya tidak dapat dikatakan mudah. Kita bisa saja memilih teman yang cocok dengan kita. Tetapi kalau kita salah pilih, biasanya akan muncul problem di belakang hari. Memilih partner bisnis hampir sama seperti memilih pacar. Jangan hanya sekedar cantik atau kaya, tetapi belakangan hari baru ketahuan belangnya.

Dalam sebuah iklan lama dalam majalah Fortune International, IBM merelease sebuah resep "How to chose a partner". Dalam iklan tersebut disebutkan ada beberapa hal utama yang harus ada dalam diri partner yang kita cari.

Syarat yang pertama adalah Partner itu haruslah seorang yang punya perhatian terhadap usaha kita sebanyak yang kita lakukan sendiri. Kalau kita punya partner kemudian ia acuh tak acuh saja terhadap usaha kita atau ia tidak mau tahu bila ada masalah, maka ia bukan partner yang baik. Kalau sementara perusahaan sedang dalam masa sulit, tetapi ia kemudian bepergian untuk bersenang-senang dan melepaskan tanggung jawabnya, ia bukan partner yang sesungguhnya.

Kemudian, syarat yang kedua, seorang partner juga seyogyanya akan berada di perusahaan itu bila dalam keadaan darurat. Misalnya, katakanlah perusahaan sedang dalam keadaan jatuh, ia harus tetap berada di sana, tidak kemudian lari meninggalkan kita. Demikian pula, kalau perusahaan kita sedang ditimpa kemalangan, misalnya toko terbakar, maka biarpun malam hari, partner yang baik pasti sudah muncul di sana. Bahkan mungkin kehadirannya lebih cepat dari kita sendiri. Pendek kata, suka maupun duka ditanggung bersama-sama.

Syarat ketiga adalah, ia memahami usaha yang kita kerjakan dan mengetahui sistem bisnisnya. Artinya, kita tidak perlu lagi mengajarinya dari nol, tetapi ia punya kemampuan intelektual yang baik dan dapat menjalankan usaha yang kita kerjakan secara bersama-sama. Dengan demikian, partner yang kita cari ini merupakan pasangan kerja. Seringkali kita mencari partner yang tidak bisa apa-apa. Malah kalau perlu dicari yang tidak bisa apa-apa sehingga tidak mencampuri urusan kita. Pendapat ini salah. Kerja sama yang baik adalah sama-sama bekerja, bukan hanya menyaksikan ia bekerja. Boleh jadi kita yang membayar dia, tetapi kalau kita cuma duduk enak-enakan saja sementara ia kerja keras membanting tulang, maka ia juga tidak akan senang pada kita. Artinya kita bukan partner yang cocok baginya.

Syarat berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah: Ia dapat menolong kita untuk berprestasi lebih baik daripada kalau kita kerjakan sendiri. Jadi misalnya saja, kalau kita bekerja sendiri peningkatan keuntungan yang kita peroleh dari tahun ke tahun adalah 15%, maka partner yang baik harus dapat meningkatkan keuntungan lebih daripada itu. Memang, apalah artinya partner kalau keuntungan atau prestasi perusahaan tetap sama saja. Apalagi kalau partner itu bahkan menghabiskan dana dan mengurangi keuntungan. Lebih baik kita bekerja sendiri saja daripada punya partner semacam itu.

Partner yang baik adalah partner yang mampu memecahkan masalah, bahkan kalau bisa, ia mengembangkannya menjadi suatu hal yang menguntungkan. Artinya, ia mampu mengubah tantangan menjadi sebuah peluang. Oleh sebab itu, partner yang biasanya cuma mengeluh atau mengomel saja tidak akan disenangi. Apalagi partner yang kerjanya cuma bisa marah-marah kalau melihat usahanya tidak untung-untung.

Alangkah baiknya seorang partner bisnis dapat memberi sumbangan ide yang inovatif untuk menolong staf-staf kita agar dapat bekerja lebih efisien. Artinya dari partner itu kita harapkan dapatnya terbentuk suatu sistem kerja yang jauh lebih baik hingga karyawan kita dapat bekerja lebih produktif.

Selebihnya, kita sendiri sebagai seorang partner perlu mempunyai pandangan ke depan dan dapat menolong kita untuk menyusun suatu rencana strategis jangka panjang. Partner yang hanya memeberikan rencana-rencana jangka pendek (1 sampai 5 tahun) biasanya masih ada yang disembunyi-sembunyikan. Umumnya ini dijadikan sebagai senjata agar ia tidak begitu saja mudah didepak. Bahkan terkadang partner ini membuat sistem manajemen yang akan berantakan bila ditinggalkan olehnya. Hal ini tidak baik, meski ia tak dapat disalahkan sepenuhnya karena bisa saja sikap kita yang membuatnya harus berjaga-jaga. Tetapi dengan dasar saling percaya dan jaminan tak ada pengkhiatan, maka partner yang baik akan menyumbangkan segala pemikiran strategis jangka panjang untuk rekan bisnisnya.

Selebihnya, partner yang kita pilih haruslah punya pandangan bahwa konsumen adalah yang terpenting. Artinya, ia harus punya pandangan bahwa keberhasilan suatu dunia usaha terletak pada kemampuan kita meraih konsumen. Usaha apapun itu, pasti punya unsur menjual, baik itu menjual barang atau menjual jasa. Kalau partner kita orientasinya hanya pada produksi saja, ia bisa tidak mau tahu apakah barangnya laku atau tidak. Partner yang terbaik adalah punya keyakinan bahwa konsumen itu penting.

Yang terakhir, partner bisnis kita sebaiknya punya kemampuan untuk memusatkan dan mendayagunakan sumberdayanya pada pencapaian hasil yang puncak. Artinya, ia akan menyumbangkan segala apa yang dimilikinya, misalnya uang, pikirannya, tenaganya dan apa saja yang dimilikinya, agar perusahaan ini mencapai hasil seoptimal mungkin. Syarat yang terakhir ini yang jarang dijumpai. Jauh lebih banyak partner yang sete-ngah-tengah saja dalam menyumbangkan sumber daya yang dimilikinya. Boleh jadi ia belum percaya seratus persen pada mitra bisnisnya atau mungkin karena sebab-sebab lain.

Dari hal ini, maka dengan didasari oleh rasa saling percaya yang kuat dan sifat kerja sama yang saling membutuhkan bukannya saling memanfaatkan, maka kerjasama akan lebih lancar jalannya. Pembagian keuntungan harus jelas dan semua pihak harus jujur. Sebab partner ini haruslah sudah merupakan orang yang kita anggap "keluarga" sendiri. Tak perlu lagi rasa saling curiga, iri hati atau jegal menjegal.

www.nuragustinus.com

BEB (Titik Impas)



Salah satu ukuran penting dalam bisnis adalah BEP (baca: be - e - pe). Apa itu BEP? BEP adalah singkatan dari Break Even Point. Dalam ilmu ekonomi, terutama akuntansi biaya, titik impas (break even point) adalah sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan pendapatan adalah seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan. Namun, kalau saya tanya ke beberapa orang, ternyata belum semua paham tentang BEP ini bahkan keliru mengartikannya.

Ketika saya bertanya kepada beberapa orang, “apa itu BEP?” Kebanyakan menjawab dengan, “Balik modal.” Jawaban ini tidak tepat, sebab BEP bukan balik modal melainkan merupakan titik impas. Lalu, apa bedanya?

Ketika Anda berbisnis, maka Anda akan menyediakan modal. Misalnya untuk sewa toko, renovasi bangunan atau membeli perabotan dan lain sebagainya. Balik modal artinya dari keuntungan pemasukan usaha Anda, seluruh modal yang telah Anda keluarkan akhirnya bisa kembali. Ini dalam istilah keuangan disebut return on investment atau disingkat ROI.

Nah, berbeda dengan BEP, ketika Anda berbisnis, pasti ada biaya operasional. Biaya operasional ini ada dua macam biaya utama, yakni biaya tetap dan biaya variabel atau tidak tetap. Mengapa disebut tetap? Karena menghitung biaya ini dilihat dari segi penjualan usaha. Misalnya katakanlah untuk bisnis ini Anda harus sewa toko. Per bulannya misalnya tiga ratus ribu rupiah. Maka kalaupun Anda tidak berhasil menjual barang dagangan Anda, Anda tetap harus mengeluarkan biaya sewa toko itu. Nah, ini namanya biaya tetap. Jadi, anggap saja usaha Anda sepi dan tidak ada pendapatan, tetap ada pengeluaran yang harus dikeluarkan. Ini biaya tetap.

Namun ketika ada proses penjualan atau transaksi, maka ada biaya lain. Misalnya ketika Anda menjanjikan harus mengirimkan ke pelanggan, atau hal lain yang harus dilakukan karena adanya transaski itu. Ini adalah biaya variabel. Semakin banyak order atau penjualan, maka biayanya juga meningkat. Ini disebut biaya variabel.

Maka, dalam proses berbisnis ini, biaya operasional Anda adalah biaya tetap ditambah dengan biaya variabel. Jika Anda masih bingung soal ini, maka saya akan coba kasih contoh lain.

Kita hidup kan harus makan dan minum. Anggap saja Anda tidak bekerja, toh pasti akan ada biaya yang keluar. Misalnya sehari-hari Anda hanya tinggal di rumah saja, tetap ada biaya yang harus Anda belanjakan untuk keperluan Anda hidup. Ini adalah biaya tetap. Tapi begitu Anda mau berbuat sesuatu, misalnya mau bekerja sekalipun, maka ada biaya variabel yang keluar, misalnya untuk naik angkot atau beli BBM dan lainnya. Setiap kali kita mau pergi, makan ada biaya juga yang harus dikeluarkan. Ini menjadi biaya variabel. Kalau Anda tidak pergi, ya tidak keluar biaya apa-apa, tapi toh untuk bisa hidup maka Anda harus keluar biaya juga. Inilah biaya tetap dan biaya variabel.

Nah, jika Anda mulai paham apa yang dimaksud dengan biaya tetap dan biaya variabel, di mana jumlahnya merupakan biaya operasional, jika dihubungkan dengan aktivitas bisnis kita yakni penjualan, maka akan ada biaya keluar tiap barang yang kita jual. Misalnya, saya buka rumah makan. Tak ada penjualan apa-apa, ada biaya tetap (bayar pegawai, bayar listrik, dan sebagainya), misalnya Rp 100.000,- per hari. Begitu ada penjualan, tiap porsi yang saya jual, ada biaya yang harus saya keluarkan sebesar Rp 5.000,-. Ini untuk biaya beli beras, beli daging, bumbu dan lainnya. Nah, jika misalnya saya bisa menjual 10 porsi, maka ada biaya variabel yang harus saya keluarkan sebesar Rp 50.000,-. Jadi total biaya saya adalah 150.000,-. Namun setiap porsi makanan yang saya jual, saya mendapatkan Rp 10.000,- maka, kalau saya menjual 10 porsi, biaya saya adalah Rp 150.000,- dan pendapatan saya Rp 100.000,-. Berarti saya belum impas. Untuk bisa impas atau mencapai titip impas (BEP), maka biaya saya harus sama dengan pendapatan saya. Nah berapa titik impasnya? Ini memang ada rumusnya untuk menghitung.

Kalau kita tahu berapa biaya tetap (A) dan tahu berapa biaya operasioal (B), dan tahu berapa harga jual barang kita (C), maka rumusnya adalah: A + (B x n) = C x n
Dalam contoh tadi A = Rp 100.000,- + (5000 x n) = 10000 x n
100000 = (10000 x n) – (5000 x n)
100000 = 5000 x n
n = 100000 : 5000
maka n = 20.

Jadi kalau Anda berhasil menjual 20 porsi, maka Anda akan mendapatkan penghasilan Rp 200.000,- dan biaya Anda (tetap + variabel) adalah Rp 100.000,- ditambah Rp 100.000 (ini dari Rp 5000 x 20), maka total biayanya adalah Rp 200.000,- Jadi ini impas. Anda tidak untung dan tidak rugi.

Nah, jika Anda bisa menjual lebih dari 20 porsi, barulah Anda memperoleh untung. Anda bisa hitung kalau misalnya Anda bisa menjual 30 porsi makanan.

Inilah pentingnya mengetahui BEP, supaya kita bisa memasang target harus menjual minimal berapa tiap hari atau bulannya. Anda harus tahu BEP tiap harinya berapa, atau bisa juga BEP tiap bulannya berapa. Ini bebas Anda tentukan sendiri. Yang pasti, Anda harus tahu, pada penjualan berapa banyak titik impas itu terjadi. Dengan demikian, Anda bisa menentukan bahwa bisnis Anda itu menguntungkan atau tidak.